Merokok adalah Pilihan

Oktober 28, 2017
boleh merokok

Rokok merupakan budaya masyarakat Indonesia sejak dulu, tidak hanya Indonesia rokok juga mendunia. Bagi perokok, ia turut melestarikan budaya nenek moyang yang kini tak sedikit penentangnya. Siapa? Ya si anti rokok. Perempuan yang menolak laki-laki karena merokok ialah alasan terkonyol yang pernah saya dengar. Mengapa? Coba yang mendekati itu adalah laki-laki mapan atau ganteng apakah ia juga menolaknya? Hmm, perlu ada penelitian/survei mengenai hal ini.

Okelah kalau si laki-laki itu mapan, wajar jika perempuan memilih laki-laki mapan. Ia ingin hidup nyaman dan bahagia dengan harta laki-lakinya. Tapi, apakah kebahagiaan bisa diukur dengan harta? Coba pikirkan lagi. Lain halnya soal laki-laki ganteng. Jika ada laki-laki ganteng tapi perokok yang menyatakan perasaannya pada perempuan, apakah perempuan yang menolak laki-laki karena merokok bisa konsisten dengan alasannya itu?

Kalau kita telusur lebih jauh, kakek atau ayahnya kakek, atau ayah dari kakeknya kakek kita dst, kemungkinan juga ada yang merokok. Katakanlah kakek kita perokok, berarti kamu juga 'terlahir' dari garis keturunan perokok. Hati-hati jika menganggap perokok itu salah, secara tidak langsung kamu juga menyalahkan garis keturunanmu sendiri. Tidak sepenuhnya perokok itu salah. Perokok salah jika yang dihisap baranya atau lupa menyalakan api. Bisa juga salah karena merokok sambil hujan-hujanan, membuang puntung rokok sembarangan, dan merokok di dekat orang yang tidak suka asap rokok.

Suka tidak suka, merokok adalah pilihan. Sama halnya pasangan, memilih pasangan karena nyaman bisa dikatakan logis. Tapi memilih karena harta dan penampilan fisik, coba pikir-pikir lagi. Harta dan rupawan hanyalah bonus, yang terpenting adalah kenyamanan. Ada laki-laki kaya namun sering bikin sakit hati dan berlaku kasar, ujung-ujungnya menyesal. Tampan tapi tak bertanggung jawab, suka lirik sana-sini, makan hati mbak. Terus beranggapan "semua laki-laki sama saja". Yah, siapa suruh cobain semua laki-laki.

Sudah sudah, kita akhiri perdebatan ini. Sekali lagi, merokok adalah pilihan. Suka tidak suka, saya sangat yakin pabrik rokok tidak mungkin tutup hanya karena banyak stigma negatif mengenai rokok. Rokok juga berperan besar dalam pembangunan negara melalui cukai tembakau. Selama rokok masih ada, selama itu pula budaya ngopi sambil berdiskusi tetap berlanjut. Bahkan ada anggapan bahwa merokok dapat mencairkan suasana, menghangatkan suasana agar tidak terlalu dingin.

Bapak-bapak atau kakek-kakek yang merokok saat ngobrol atau diskusi juga semakin langgeng jalinan silaturahminya. Mengapa tidak? Jika korek apinya ketinggalan atau lupa beli, tiba-tiba ada yang menawarkan korek, menurut saya hal itu adalah solidaritas. Bahkan ada yang menawarkan rokoknya padahal tidak diminta. Hmm, sangat harmonis.

So, jangan salahkan rokok atau perokoknya tapi salahkan koruptor yang memakan harta rakyat. Sekian dan terima kasih. Wassalamu'alaikum.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.