Pernyataan Sikap Terhadap Ustaz Felix Siauw dan Para Pendukungnya

November 13, 2017
Pernyataan Sikap

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kepada saudaraku seiman yang dirahmati Allah SWT, sebelumnya saya mohon maaf tulisan ini akan mengarah ke pihak-pihak tertentu dalam konteks keagamaan yang bermaksud memberikan pemahaman saya atas pemikiran Felix Siauw dan para pendukungnya. Sebelum membaca lebih jauh mengenai tulisan ini kita juga perlu memahami kedudukan NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara agar tak terjerumus pada paham-paham radikal.

Menyikapi kasus pengajian Felix Siauw yang sering dibubarkan oleh masyarakat setempat, saya sangat prihatin dan tak ingin berlarut-larut dalam masalah itu yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui jalur diskusi. Ketika berdiskusi, antara Felix Siauw maupun masyarakat boleh berargumen sesuai dengan pemahaman masing-masing asalkan tidak keluar konteks yang sedang dibahas.

Permasalahan paling kerucut seputar pengajian Felix Siauw ialah ketika beliau akan mengisi pengajian di salah satu masjid wilayah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Saat itu dari pihak Banser (Barisan Ansor Serbaguna) NU mengetahui kedatangan Felix Siauw di wilayah tersebut. Dikutip dari Tempo.co, Wakil Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur Ahmad Nur Aminudin mengatakan pembubaran pengajian Felix Siauw di Masjid Manarul Islam, Bangil, Pasuruan, pada Sabtu (4/11/2017) pekan lalu terpaksa dilakukan karena yang bersangkutan tidak menyepakati tiga poin yang diajukan Barisan Serbaguna (Banser).

Tiga poin itu ialah, pertama, Felix, yang juga mantan tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), mau mengakui Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, tidak mendakwahkan konsep khilafah dalam pengajian tersebut. Ketiga, bersedia meninggalkan HTI yang telah dibubarkan pemerintah. “Namun, Ustaz Felix menolak surat cinta yang kami ajukan,” kata Aminudin di Surabaya, Selasa, 7 November 2017.

Itulah yang menjadi alasan kenapa pengajian Felix Siauw di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur dibubarkan oleh masyarakat. Sudah menyalahi aturan hidup di Indonesia jika tidak mau mengakui Pancasila dan NKRI. Menurut pemahaman saya, Pancasila dan Islam itu tidak bertentangan. Sebagai warga negara Indonesia, kita wajib mengakui Pancasila dan mengamalkan nilai-nilainya.

Nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk menciptakan persatuan dan menjaga kesatuan. Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, ras, etnis, budaya, dan antar golongan. Perbuatan atau aktivitas maupun ideologi/paham yang bertentangan dengan Pancasila harus dibubarkan. Dalam konteks ini ormas HTI yang menjadi sasaran pembubaran karena telah mengikrarkan konsep khilafah atau negara Islam.

Tidak boleh ada negara dalam negara. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final. Secara eksplisit, Pancasila menjadi dasar negara Indonesia dan tidak dapat digantikan dengan konsep ideologi manapun. Di beberapa negara lain konsep khilafah juga ditolak karena latar belakangnya bukan berdasar agama melainkan politik. Agama dijadikan alat politik. Astaghfirullahal 'adzim.

Namun om Felix Siauw ini tetap pada pendiriannya, tidak bersedia mengakui Pancasila dan NKRI karena dianggap produk manusia bukan produk Tuhan. Ngomong-ngomong soal produk manusia, secara eksplisit gadget (teknologi), alat-alat elektronik, kendaraan, perabotan rumah tangga juga merupakan produk manusia. Seharusnya om Felix ini juga tidak mengakui barang-barang tersebut dan tidak menggunakan.

Memang secara eksplisit Pancasila sama dengan barang-barang tadi, produk manusia, yang menyusun manusia. Akan tetapi, secara implisit Pancasila termasuk produk Tuhan melalui perantara manusia. Tuhan telah menakdirkan Pancasila ada, kalau tidak ditakdirkan saya yakin sampai kapan pun Pancasila tidak akan ada. Takdir tidak dapat diubah, yang bisa diubah ialah nasib. Jika seseorang/ormas/kelompok berani mengubah dasar negara Indonesia sama halnya ia atau mereka telah menyalahi takdir Tuhan.

Saya tidak paham mengenai hukuman yang menyalahi takdir. Itu adalah hak prerogatifnya Tuhan. Yang saya pahami, khilafah itu tidak cocok diterapkan sekarang sebelum Imam Mahdi muncul. Kalaupun sekarang ada yang mengusung konsep khilafah, pasti tidak akan terwujud dan banyak yang menentangnya  -- termasuk Indonesia -- karena berbuntut pada politik. Islam sangat menjunjung tinggi toleransi. Menghargai perbedaan pendapat, agama, suku, ras, maupun budaya.

Kelompok atau perseorangan tidak berhak memaksakan kehendak. Mereka juga tak berhak mendeklarasikan negara dalam suatu negara. Indonesia bukan hanya milik orang Islam atau agama lain, melainkan milik bersama yang harus dijaga seterusnya. Maka dengan ini saya menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai landasan hukum negara, dan saya juga mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikianlah tulisan ini saya sampaikan sesuai pemahaman pribadi dan tidak bermaksud menyudutkan pihak-pihak tertentu. Semoga tulisan ini dapat menyadarkan kita untuk lebih menghargai perbedaan serta menjaga kerukunan antar umat beragama. Aamiin...

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.