Antara Kopi, Kretek, dan Buku

Desember 15, 2017
Merokok Adalah Pilihan

Sebermula kopi yang berasal dari biji buah pilihan dan dihaluskan, lalu seduhannya kita nikmati. Ialah surga duniawi, yang pantang kita kufuri. Entah kenapa, kopi selalu mengajak penikmatnya untuk lebih menginternalisasikan diri. Barangkali, kopi adalah cara Tuhan menyadarkan manusia agar budaya berdiskusi tetap lestari.

Kerap kali kopi kita jumpai pada acara-acara diskusi dan tempat berkumpulnya para pemuda dan pemudi. Mereka antusias dalam bertukar pikiran maupun mengutarakan gagasan. Karena sejatinya kopi ialah pelengkap atau pemicu munculnya sebuah pemikiran. Pun juga sama dengan kretek, sebermula ngopi sebagai pelengkap. Apa nikmatnya ngopi tanpa sebat?

Antara kopi dan kretek, dua hal yang saling melengkapi. Kopi selalu mengajak penikmatnya untuk lebih menginternalisasikan diri, sedangkan kretek menguatkan cita rasa dari kopi itu sendiri. Terlepas dari halal haramnya kretek maupun efek kesehatan. Pada kondisi tertentu kretek dapat menghilangkan stress, memperbaiki mood, sekaligus menghangatkan obrolan.

Mereka yang tidak merokok hanya melihat dari satu sudut pandang, mengenai efek kesehatan. Dikutip dari instagram @komunitaskretek, pada takaran tertentu nicotine dan nicotianin yang termasuk golongan alkoloid akan menstimulasi produksi dopamine yang mengatur sistem kognitif. Itulah yang membuat Pramoedya Ananta Toer menulis banyak buku, termasuk Chairil Anwar, Soekarno, atau yang lainnya.

Ngomong-ngomong soal buku, sebagian orang menganggap ketika membaca buku butuh asupan logistik yang memadai agar dapat memahami keseluruhan makna dari substansi. Beberapa diantaranya membutuhkan kopi dan kretek sebagai asupan logistik mereka. Seperti tagline dari web Mojok.co, "Buku di tangan kiri, kopi di tangan kanan, jodoh di tangan Tuhan". Lalu kreteknya dimana?

Ya kreteknya di asbak lah atau kopinya ditaruh dulu, hisap kretekmu. Sekian terima kasih. :p

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.