Etika dalam Berkomunikasi via Aplikasi Chatting

Januari 14, 2018
Smartphone

Pada era teknologi saat ini, kalangan anak muda tidak bisa dijauhkan dengan yang namanya smartphone. Apalagi teknologi jaringan masa kini sudah beralih ke 4G bahkan ada operator seluler yang sudah mendukung jaringan 4.5G. Pasti dalam jeda beberapa menit seseorang tertarik untuk membuka smartphone. Kemungkinannya sangat kecil, jeda membuka smartphone sampai melebihi 3 atau 4 jam (kecuali tidur atau orang-orang saklek yang memang tidak suka pada smartphone atau bisa juga saat kondisinya benar-benar sibuk).

Jangankan berjam-jam, beberapa menit tidak pegang smartphone tangan kita terasa "gatal". Entah itu ingin selfie, entah ingin update storyentah baca status/berita/artikel, entah iseng-iseng stalking, maupun main game pasti ada saja aktivitas yang dilakukan melalui smartphone. Tidak memungkiri laki-laki juga seperti itu. Berdasarkan pengamatan langsung, sebelum melewati 3 jam ada kemungkinan seseorang melihat notifikasi di smartphone masing-masing.

Kalau chat kita tidak dibalas melebihi 3 atau 4 jam, memang ada unsur kesengajaan untuk tidak dibalas. Fast respon atau tidak, kita harus memahami isi pesannya dulu. Misal kalau pesannya amat penting, dalam hal ini bertanya, usahakan segera dibalas. "Kan bisa via telpon??" Begini, untuk urusan telpon ada sebagian orang yang tidak suka berkomunikasi via telpon, ada yang suka via chatting, ada yang suka ketemuan langsung. Dan teruntuk saya pribadi tergantung mood.

Ketika sedang mood telpon saya akan menelpon, ketika malas menelpon saya akan chatting. Begitu pun ketika ingin ketemuan saya akan ketemuan. Nah, karakter manusia kan beda-beda. Cuek juga boleh tapi jangan terlalu. Seandainya kita sedang sibuk (bukan pura-pura sibuk) dan sempat membuka smartphone tapi belum sempat balas chatting, paling tidak memberi kabar "Maaf saya sedang sibuk, saya respon nanti". Atau dengan kalimat lain yang mengindikasikan sedang sibuk.

Bila perlu disertai bukti. Jadi, kesannya itu kita menghargai orang lain. Kita hargai dulu orang lain, baru orang lain bisa menghargai kita. Sewaktu-waktu, kita pasti perlu bantuan orang lain dan jika terkendala jarak jalan satu-satunya menghubungi via smartphone. Saya paling tidak suka ketika yang bersangkutan ditanya pertanyaan penting lewat aplikasi WhatsApp dan pesannya telah diterima (centang dua) tapi malah aktif di media sosial lain + update status. Merasa jengkel nggak?

Apalagi ketika kondisi online ia tidak segera membalas pesan, beberapa menit kemudian bahkan ada yang sampai berjam-jam baru sempat dibalas. Itupun kalau sempat. Kalau tidak? Ya wassalam, pesan kita terabaikan. Ingat, jangan merasa sok ngartis, merasa seperti pejabat, atau sejenisnya, yang selalu sibuk dengan aktivitas. Kalau Anda artis, seorang public figure atau pejabat, wajar jika dihubungi susah. Kalau tidak? Ya jangan merasa sok ngartis, sok jadi pejabat.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.