Hei Kalian, Belajarlah Meneladani Gus Dur!

Januari 06, 2018
Gus Dur

Di era millenial ini, saya kira figur yang paling tepat dijadikan teladan adalah Gus Dur. Mengingat sepak terjang beliau telah memberi banyak pelajaran tentang kemanusiaan yang selayaknya kita teladani. Bahkan lebih dari itu, Gus Dur juga mengajarkan arti kehidupan sebenarnya, menghargai perbedaan pendapat. Ya betul, perbedaan pendapat. Anda tidak salah baca.

Seringkali saya menjumpai perdebatan serius di media sosial – termasuk saya sendiri – karena masing-masing kubu ngotot dengan pendapatnya. Lantas mereka mengeluarkan umpatan kotor untuk memojokkan salah satu kubu. “Goblok, bodoh, anjing, babi, ndasmu, kafir, neraka, haram menjadi senjata pamungkas menjatuhkan lawan – kadang saya juga jadi korban tapi saya usahakan tidak mengeluarkan umpatan kotor. Jelas-jelas itu bukan konteks bercanda. Perdebatan semacam itu hanya menjadi lelucon bagi yang waras. Dari tema politik, agama, ekonomi, sosial sampai budaya salah satu kelompok/golongan dijadikan bahan perdebatan.

Lalu yang salah siapa? Hmm, tidak ada. Mereka hanya korban. Korban keganasan media sosial, situs/akun abal-abal, dan guru yang tidak berkompeten. Kurang memahami konteks, lantas dengan beraninya berdebat di status maupun kolom komentar. Saling serang untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, yang paling benar. Apakah menyerang kubu tertentu secara pribadi karena perbedaan opini dapat dibenarkan? Ajaran mana yang membenarkan sikap tersebut?

Cobalah meneladani sikap Gus Dur. Beliau tidak ambil pusing apa kata orang lain di luar sana. Jika ada persoalan tertentu yang perlu pembahasan lebih lanjut, kita adakan diskusi, kita adakan rapat bukan berdebat. Loh bukankah berdebat itu perlu? Iya saya paham, terkadang berdebat itu perlu untuk mengklarifikasi dan meluruskan suatu hal yang keliru. Tapi, dalam perdebatan yang bersangkutan harus benar-benar memahami ilmunya. Bukan asal ngomong, asal ngetik tanpa memahami konteks.

Karena hakikatnya manusia tak lepas dari kemungkinan benar dan kemungkinan salah. So, jangan merasa yang paling benar apalagi menghakimi yang salah. Penghakiman sepihak dengan umpatan maupun kekerasan tidak bisa dibenarkan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.