Kebodohan Bukanlah Suatu Kutukan

Februari 10, 2018
Perbedaan Pendapat

Bergaul dalam lingkungan masyarakat, penilaian mereka terhadap diri kita pasti bermacam-macam. Ada yang menilai kita bodoh, ada juga yang menilai kita unik. Mungkin atau bahkan saat ini yang dianggap bodoh, idiot, goblok, culun, kuper, dan sejenisnya tidak selamanya demikian. Bisa jadi keadaan dan semangat seseorang untuk berubah akan berbanding terbalik dengan stigma negatif masyarakat. Yang dulunya terkenal culun sekarang bisa membaur, yang dulunya dikenal kolot sekarang bisa toleran.

Alangkah baiknya jika kita memahami karakter seseorang tanpa melakukan perundungan bahkan yang paling parah dikucilkan dari pergaulan. Terkadang hal-hal tersebut menimpa seseorang yang dianggap tidak sepemikiran dengan masyarakat dan tidak mengikuti kebiasaan mereka. Loh, bukankah hidup ini kompleks? Hidup ini tidak serta merta harus menyenangkan orang lain. Sebagai individu juga berhak untuk berbeda dengan orang kebanyakan. Berbeda dalam arti pemikiran, bukan berbeda dalam arti hukum alam.

Kita berhak untuk berbeda asalkan tidak melanggar hukum alam, hukum manusia normal. Contoh LGBT. Menurut saya, hal tersebut sudah melampaui batas mengenai hukum alam. Kodrat diciptakannya manusia ya untuk berpasang-pasangan, antara laki-laki dengan perempuan. Akan tetapi yang saya bahas bukan itu. Penekanan saya fokus pada perbedaan pendapat. Kita tak perlu mengucilkan seseorang hanya karena berbeda pendapat dalam hal menyikapi suatu persoalan.

Toh setiap orang berhak menyampaikan pendapat. Apapun pendapatnya harus kita hargai dan kita hormati orangnya. Jangan sampai kita merendahkan harga diri seseorang dan keluarganya. Menyerang secara pribadi tidak bisa dibenarkan. Serang argumennya bukan orangnya. "Saya tidak sependapat dengan Anda. Tetapi saya akan ikut berjuang bersama Anda jika argumentasi dilarang". Itulah kalimat yang pas untuk menyikapi perbedaan pendapat. Dan satu lagi, kebodohan bukanlah suatu kutukan.

Tidak ada manusia bodoh di dunia ini, yang ada hanya orang malas. Malas mempelajari hal-hal baru dan malas untuk membaca. Tak sekadar membaca buku melainkan juga membaca keadaan di sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.