Menolak Tunduk Pada Apapun Selain PadaMu

April 11, 2018
Menolak Tunduk Pada Apapun Selain PadaMu

Judul tulisan ini merupakan kutipan dari novel dwilogi Pejalan Anarki karya Jazuli Imam. "Menolak Tunduk Pada Apapun Selain PadaMu". Ya, begitulah kiranya. Saya, selaku manusia menolak tunduk pada apapun selain pada Tuhan. Bukan berarti saya susah diatur, melainkan kata 'tunduk' menunjukkan bahwa ada unsur keterpaksaan, ada unsur kepolosan. Keterpaksaan dan kepolosan menggambarkan kita seolah-olah tidak mempunyai prinsip. Mau saja diatur-atur, dipaksa-paksa, dan harus mengikuti arus.

Adanya aturan bukan bertujuan untuk memaksa. Adanya perintah bukan berarti harus mengikuti arus. Adapun dibentuknya aturan bertujuan untuk menertibkan atas dasar kesepakatan dari banyak pihak. Setahu saya kesepakatan itu tidak ada unsur memaksa dan bertujuan demi kenyamanan bersama. Misal aturan dalam berkendara. Telah kita ketahui bahwa salah satu aturan berkendara di Indonesia ialah mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Saya sepakat dengan kata 'mematuhi'. Dalam konteks ini kita harus patuh pada rambu-rambu lalu lintas jika situasi dan kondisi di jalan raya memungkinkan kita untuk patuh. Kalau dalam keadaan sepi tak ada salahnya untuk melanggar. Misalnya pada tengah malam atau dini hari. Jika pada saat itu tetap mematuhi lalu lintas yang kondisinya sepi, saya rasa hal itu sangat aneh. Maksudnya bagaimana? Kok muter-muter? Oke saya jelaskan.

Mulai dari hakikat dibuatnya aturan. Kenapa aturan itu dibuat? Apakah aturan dibuat untuk dilanggar? Kalau seperti itu mending nggak usah dibuat. Ngapain dibuat aturan kalau ujung-ujungnya dilanggar. Begitu kan logika normalnya? Lalu hakikat dibuatnya aturan dimana? Menurut saya, adanya pembuatan aturan bertujuan untuk menjaga ketertiban, menjaga kenyamanan, dan menjaga keamanan yang dilandasi rasa ikhlas.

Tanpa adanya rasa ikhlas, pasti ada kecenderungan untuk melanggar. Bagi saya melanggar tidak hanya bermakna negatif. Silakan melanggar kalau memang itu dilandasi alasan yang kuat. Untuk resiko, ya ditanggung sendiri. Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa adanya aturan harus ditaati asal aturan itu tidak menimbulkan ketimpangan sosial, tidak memihak, dan demi kenyamanan/keamanan bersama. Lantas, apabila kita disuruh orang tua untuk melakukan sesuatu atau mengikuti apa yang dikatakan beliau bagaimana?

Oke saya asumsikan pembaca tulisan ini sudah besar, sudah berumur. Kita berhak menentukan pilihan kita masing-masing. Kita berhak menentukan jalan hidup kita masing-masing. Orang tua hanya berhak mengarahkan dan membimbing anaknya bukan untuk memaksa. Contohnya dalam urusan memilih jurusan kuliah, perihal pasangan hidup, dan pekerjaan. Dalam urusan memilih jurusan kuliah, bagi saya itu sudah masuk ranah privasi. Merupakan kebebasan individu dalam memilih minat.

Biarlah sang anak yang memilih jalur peminatan mereka. Sebaiknya orang tua itu mendukung dan mendoakan keputusan anak. Menurut saya, jurusan kuliah merupakan selera bukan kehendak orang tua. Dan selera itu tidak bisa dipaksakan. Selera adalah hak mutlak bagi individu. Paham kan? Lanjut ke perihal pasangan hidup. Dalam memilih pasangan, seseorang pasti memiliki beberapa kriteria. Sedangkan kriteria, sangat erat kaitannya dengan selera. Seperti tadi, selera adalah hak mutlak bagi individu.

Selera tidak bisa dipaksakan. Jika orang tua menjodoh-jodohkan anak dengan calon pasangan hidup pilihan mereka tanpa seizin dari sang anak, itu adalah pemaksaan. Dimana pun, segala bentuk pemaksaan tidak dapat dibenarkan. Kecuali untuk urusan tertentu yang memang perlu pemaksaan. Tetapi untuk konteks ini pemaksaan adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Biarlah sang anak yang memilih pasangan hidup sesuai kriteria mereka. Toh, yang menjalani rumah tangga adalah anak.

Suka maupun duka akan mereka jalani bersama pasangan. Untuk urusan rumah tangga orang tua tidak berhak ikut campur. Kecuali jika diminta oleh anaknya langsung, ya silakan. Mengenai pekerjaan, saya rasa hal ini berkaitan dengan passion. Apa itu passion? Menurut tgoehblog's Blog, passion ialah sesuatu yang kita tidak pernah bosan untuk melakukannya, dimana kita akan mengorbankan segala hal untuk mencapai itu, dimana kita tidak memikirkan untung rugi dan ketika melakukan hal itu membuat lupa dengan hal-hal lain.

Kecuali makan, minum, mandi, buang air, dan ibadah. Tiap orang pasti memiliki passionnya masing-masing dan di dalam passion itu ada skill yang bisa dibentuk dan dilatih. Misal passion saya nulis. Passion yang terus-menerus dilakukan memiliki kecenderungan membentuk skill (keahlian). Saya mau fokus ke tulisan apa, fokus ke cerpen, feature, atau opini. Dalam urusan pekerjaan, orang tua juga tidak berhak mencampuri urusan anaknya. Yang terpenting bagi sang anak ialah dukungan dari orang tua, bukan malah menakut-nakuti atau malah mencelanya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.