Perihal Mencintai Lawan Jenis

April 22, 2018
Perihal Mencintai Lawan Jenis

Perihal mencintai lawan jenis merupakan salah satu bentuk kasih sayang Tuhan kepada kita selaku manusia sebagai pertanda bahwa hati manusia bekerja sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, saya menganggapnya fitrah yang menunjukkan orientasi seksual kita normal. Sebuah kewajaran jika seseorang mencintai lawan jenis atau tumbuh benih-benih rasa suka. Entah suka karena pemikirannya, suka karena karakternya, atau sekadar suka karena penampilan fisiknya. Eittss, tunggu dulu. Antara suka dengan cinta itu beda.

Rasa suka menunjukkan kekaguman kita terhadap lawan jenis, sedangkan cinta menunjukkan rasa kasih dan sayang. Kekaguman hanya bersifat sementara, lain halnya dengan cinta. Cinta itu bertahan lama, susah untuk dihilangkan. Tapi bukan berarti tidak bisa dihilangkan. Bisa hilang tapi memerlukan waktu yang lama. Mungkin sebagian orang menganggap cinta itu perlu pengorbanan. Tetapi bagi saya tidak. Cinta itu tidak perlu pengorbanan.

Jika merasa berkorban dalam mencintai, berarti cintanya itu tidak tulus, ia tidak ikhlas mencintai lawan jenis. Suatu saat, apabila cintanya ditolak kemungkinan ia akan menuntut kepada lawan jenis yang dicintainya. "Saya sudah berkorban ini itu demi kamu, kenapa kamu menolakku". Dari pernyataan tersebut saya menyimpulkan bahwa cintanya itu tidak tulus, ia merasa berkorban hanya ingin cintanya dibalas. Bukan karena peduli.

Menurut saya, peduli dengan perhatian memiliki makna yang beda. Peduli sangat identik dengan ketulusan. Ia benar-benar ingin membantu kita tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun. Entah imbalan materi atau imbalan perasaan. Dalam hal ini, perasaannya ingin dibalas oleh orang yang dicintainya. Sedangkan perhatian, pasti terbesit keinginan untuk dibalas. Ia memiliki rasa pamrih, tidak tulus dalam membantu.

Adapun ciri-ciri orang caper (cari perhatian) ialah merayu lawan jenis dengan rayuan yang berlebihan, tiba-tiba bersikap baik, memberi benda/barang ke lawan jenis tanpa diminta seperti bunga, makanan/minuman, boneka, jam tangan, dan lain-lain. Beberapa hal tersebut menurut saya menjurus ke cari-cari perhatian. Daripada memberi barang, kalau memang benar-benar cinta alangkah baiknya ajaklah ia atau berikan motivasi kepadanya untuk melakukan perbuatan yang memiliki value (nilai).

Misalkan diskusi, mengikuti seminar atau workshop, mengikuti bedah buku, memberi pengetahuan atau ilmu, dan selanjutnya silakan kamu temukan sendiri. Betapa berharganya perilaku yang saya sebutkan ini daripada memberikan benda/barang ke lawan jenis. Dari pemikiran saya, sesuatu yang berwujud benda/barang memiliki "masa pakai" untuk beberapa waktu. Jika masa pakainya habis atau kadaluarsa kemungkinan besar tidak digunakan lagi atau dikonsumsi.

Sedangkan pengetahuan maupun pengalaman tidak memiliki "masa pakai". Ia akan tertanam di pikiran dan hati seseorang. Akan dibawa seumur hidup. Mungkin saat ini belum terlihat kegunaannya, namun siapa tahu di masa depan pengetahuan dan pengalaman yang kita bagikan berguna untuk dia beserta masyarakat. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih telah bersedia membaca tulisan ini yang menurut saya kebenaran dan faedahnya masih dipertanyakan. Satu lagi, jangan lupa ngopi. Mumpung masih muda sempatkanlah ngopi selagi sempat. Semoga kita semua dilancarkan rejekinya dan dimudahkan dalam segala urusan. Termasuk kamu dan saya sendiri.

Aamiin, Al Fatihah.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.